Kamis, 15 Mei 2014

Konflik Antar Muka di Indonesia


Negara Indonesia mempunyai banyak klub sepakbola. Sepakbola itu merupakan jenis olahraga yang favorit di kalanganan dunia, yang diminati oleh kaum laki-laki meskipun ada kaum wnaita yang bermain. Indonesia memiliki ratusan bahkan ribuan klub sepakbola yang tersebar di setiap daerah, contohnya Arema (Malang), Persela (Lamongan), Persebaya (Surabaya), Persib (Bandung), Persiba (Balikpapan), Persik (Kediri), Persija (Jakarta), Persijap (Jepara), Persipura (Jayapura), Persisam (Samarinda), Sriwijaya (Palembang), dll. Sepakbola sangat identik dengan supporter, bila tidak ada supporter maka sepakbola di Indonesia tidak akan sepakbola di Indonesia menjadi persaingan yang kompetitif.


Fanatik yang berlebihan dari suporter dalam mendukung tim kesayangannya kadang berubah menjadi kerusuhan atau tindak anarkisme dengan merusak berbagai fasilitas umum. Tindakan kerusuhan suporter ini semakin anarkis ketika terjadi gesekan antara dua kelompok suporter, meskipun misi perdamaian sudah dilakukan banyak kelompok suporter di Indonesia. Inilah yang merusak kaidah Pancasila khususnya sila ke-3 yaitu “Persatuan Indonesia”.
Fenomena penonton dating beramai – ramai ke stadion sudah ada di Indonesia sejak lama. Hanya saja, penonton zaman dulu tidak punya organisasi atau komunitas. Mereka hanya muncul menjelang pertandingan dan setelahnya mereka bubar sendiri-sendiri, ini sangan bertolak belakang sekali dengan fakta pada supporter sepakbola di Indonesia saat ini.
Tidak jarang kita sering mendengar konflik antarsuporter itu sendiri bahkan hamper di setiap pertandingan ada konflik panasnya, bahkan sampai ada yang merenggut nyawa.  Yang akan saya tulis disini yaitu tentang konflik antar supporter bola yaitu supporter Persib dan supporter Persija. Tidak jelas sebenarnya apa yang melatarbelakangi mereka untuk saling berseteru antar satu sama lain. Hingga saat ini perseteruan kedua kelompok supporter itu pun masih terus berlanjut. Viking, yang memiliki anggota terbanyak di Indonesia, memiliki kreatifitas tinggi, terbukti dengan julukan “Bandung kota mode, musik, dan seniman”, dengan the jak yang memiliki title kota ibukota. Menarik sekali membahas pertemuan Persib dan Persija karena dua klub ini merupakan dua klub terbesar, legendaris dan memiliki sejarah besar sejak awal mula sepakbola di Indonesia ada. Bara api dan dendam selalu mewarnai pertandingan ini.


Konflik Persib vs Persija juga bukan satu-satunya di sepak bola Indonesia. Ada banyak permusuhan antarsuporter. Misalnya Bonek (Persebaya) vs Aremania (Arema Malang). Di Jawa Tengah ada Panser Biru dan Snex (PSIS Semarang) melawan Jet Man dan Banaspati (Persijap Jepara). Masih banyak lagi.
Para suporter yang rentan berkelahi ini awalnya hadir ke arena dengan maksud mendukung tim sekaligus menaikkan mental dan moral. Lalu setelah itu, mereka juga memberikan teror kepada tim lawan – lewat saling sindir dalam nyanyian, saling ejek, hingga saling lempar botol dan benda keras. Tidak hanya di arena pertandingan tetapi hingga luar stadion dan jalanan.
Hingga saat ini pun belum ada yang bisa menghentikan sifat anarkis dari para supporter tersebut, bahkan untuk berdamai pun belum menemui titik terang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar