Kamis, 06 November 2014

Membetulkan Dan Mengefektifkan Kalimat

A.     Pengantar
Untuk dapat membetulkan sesuatu, kita harus mengetahui dengan tepat letak kesalahan terlebih dahulu. Tanpa mengetahui letak kesalahannya, suatu pembetulan mungkinjustru menyebabkan kesalahan atau kerusakan yang lebih parah dari sebelumnya. Demikian pula dalam pembetulan suatu kalimat. Kesalahan penyimpangan dari aturan yang benar atau betul. Pada garis besarnya kesalahan itu dapat dibedakan menjadi kesalahan ejaan (termasuk didalamnya kesalahan tanda baca) dan kesalahan tata bahasa.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat ditangkap dan mudah dipahami oleh pembaca, menghayati masing-masing tuturan itu. Keterpahaman inilah yang menjadi salah satu kriterian kalimat efektif. Kriteria lain adalah kelaziman. Pemakaian kata, susunan frasa dan kalimat tertentu dipandang lazim dalam ragam bahasa tertentu, namun belum tentu lazim dalam ragam bahasa lain.
B.    Kesalahan Kalimat
Kesalahan kalimat dapat dibedakan dari dua segi, yaitu kesalahan internal dan kesalahan eksternal. Kesalahan internal adalah kesalahan kalimat yang diukur dari unsur-unsur dalam kalimat. Kesalahan eksternal diukur dari unsur luar kalimat yang bersangkutan. Kesalahan eksternal diukur dari kalimat-kalimat lain yang menjadi konteks atau lingkungannya.
Kesalahan dari segi internal. Tipe pertama adalah kesalahan kandungan isi yang menyebabkan kalimat menjadi tidak logis sebagaimana tampak pada contoh-contoh berikut :
1. Menurut Habibi (dalam Nimbar, 1993)  menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi yang diterapkan secara tepat guna diarahkan untuk memberantas kemiskinan dan keterbelakangan.
2. Dengan pemakaian pupuk urea pil dapat menyuburkan tanaman dan meningkatkan produksi pertanian
3. Di dalam artikel itu menyuratkan bahwa sumber daya alam yang bermacam-macam di Indonesia ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
4.     Kepada semua informan mendapatkan dua macam instrumen yaitu angket dan catatan kegiatan.
Semua kalimat di atas merupakan kalimat yang tidak logis. Untuk membuktikan itu dapat digunakan pertanyaan-pertanyaan mengenai isi setiap kalimat itu. Pada kalimat (1) dapat dinyatakan siapa yang  menyatakan. Jika dinyatakan hal itu, jawaban tidak ada, walaupun bisa saja dijawab dengan Habibi. Akan tetapi, Habibi pada kalimat (1) itu tidak  menempati pokok kalimat, melainkan keterangan sebagaimana disyaratkan oleh kata mereka. Jadi, pertanyaan itu sebenarnya tidak dapat dijawab dengan Habibi. Baru bisa dijawab dengan Habibi   3 jika kalimatnya diubah menjadi Habibi (dalam Nimbara, 1993) menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi  yang diterapkan secara tepat guna diarahkan untuk memberantas kemiskinan dan keterbelakangan.
Pertanyaan tentang pokok kalimat juga tidak dapat dikenakan pada kalimat (2). Jika dipertanyakan dengan kalimat  Apa yang menyuburkan tanaman?,  jawaban tidak dapat dicari dalam kalimat itu. Barulah jawaban dapat ditemukan jika frasa  dengan pemakaian  dihilangkan sehingga kalimatnya menjadi Pupuk Urea Pil dapat menyuburkan tanaman dan meningkatkan produksi pertanian. 
Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa kelogisan kalimat akan tampak pada kejelasan fungsional antarunsur kalimat. Kejelasan hubungan itu ditampakkan pada hubungan antara unsur pokok (subjek), sebutan (predikat), objek, pelengkap, dan keterangan.
Ketidakjelasan hubungan fungsional dapat menyebabkan gagasan dalam kalimat menjadi berbelit-belit sehingga sulit dipahami orang lain. Disamping kesalahan logika, kesalahan kalimat dapat terjadi ketidaklengkapan. Kalimat yang tidak lengkap itu hanya mengandung sebagian saja unsur-unsur yang seharusnya ada
C.     Membetulkan Kesalahan Kalimat
Ada beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat.
1.      Kalimat tanpa Subjek
Dalam menyusun sebuah kalimat seringkali dengan kata depan atau preposisi, lalu verbanya menggunakan bentuk aktif atau berawalan meN-baik dengan atau tanpa akhiran –kan. Dengan demikian dihasilkan kalimat – kalimat salah seperti di bawah ini :
1.      Bagi yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.
2.  Untuk perbaikan prasarana pengairan tersebut memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat.
3.  Dengan beredarnya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat pedesaan.

Untuk membetulkan kalimat di  atas dapat dilakukan dengan :
1.      Menghilangkan kata depan pada masing – masing kalimat tersebut, atau 
2.      Mengubah verba pada kalimat tersebut, misalnya dari aktif menjadi pasif.

Jadi kemungkinan pembetulan kelima kalimat adalah :
1.      Yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.  
2.      Perbaikan prasarana pengairan tersebut memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat.
3.      Hadirin yang menginginkan terbitan lembaran sastra dapat menghubungi bagian sirkulasi.
4.      Beredarnya koran masik desa bermanfaat sekali bagi masyarakat pedesaan.
Dalam pembetulan di atas, maka subjeknya menjadi lebih jelas, yaitu berturut-turut adalah yang merasa kehilangan buku tersebut, perbaikan prasarana pengairan tarsebutpartisipasi aktif dari masyarakat, rapat lenglap fakults sastra ini, pergantian pengurus, hadirin yang menginginkan terbitan lembaran sastra, dan beredarnya koran masuk desa.
Perlu dicatat bahwa dalam kalimat di atas tersusun dengan pola inversi, subjeknya berada di belakang predikat. Terjadinya kesalahan seperti kalimat (1 s.d. 3) di atas karena mengacaukan dua struktur kalimat yang benar.

2.      Kalimat dengan Objek Berkata Depan
Kesalahan yang telah dibicarakan  di atas dapat dikatakan sebagai kesalahan pemakaian kata depan pada awal kalimat yang biasanya diduduki subjek. Kesalahan pemakaian kata depan  itu juga sering ditemui pada objek.
Sebagai contoh:

5.      Hari ini kita tidak akan membicarakan lagi mengenai soal harga, tetapi soal ada tidaknya barang itu. 
6.  Dalam setiap kesembatan mereka  tidak bosan – bosannya mendiskusikan tentang dampak positif pembuatan waduk itu.

Kalimat (5) dan (6) dapat dibetulkan dengan menghilangkan kata depan mengenai pada kalimat (5) dan  tentang pada kalimat (6). Kesalahan seperti pada contoh (5 dan 6) ini juga terjadi karena mengacaukan dua bentuk yang benar, yaitu:

Membicarakan soal harga
Berbicara mengenai soal harga
Mendiskusikan dampak positif pembuatan waduk
Berdiskusi tentang dampak positif pembuatan waduk

Perlu dicatat bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa verba dan kata depan yang sudah merupakan paduan, misalnya: Bertentangan dengan, bergantung pada, berbicara tentang, menyesal atas, keluar dari, sesuai dengan, serupa dengan.

3.      Konstruksi Pemilik Berkata Depan
Kesalahan pemakaian kata depan lain yang ditemui pada konstruksi frasa: termilik + pemilik. Secara berlebihan  sering ditemui adanya kecenderungan mengeksplisitkan hubungan antara termilik dengan permilik dengan memakai kata depan dari atau daripada, misalnya:

7.      Kebersihan lingkungan adalah keburtuhan dari warga.
8.      Buku – buku daripada perpustakaan perlu ditambah.

Konstruksi frasa yang sejenis dengan kebutuhan dari warga dan buku-buku daripada perpustakaan ini sering kita dengar dalam pidato – pidato (umumnya tanpa teks). Misalnya:  

9.      Biaya dari pembangunan jembatan ini; kenaikan daripada harga – harga barang elektronik.

Dalam karangan keilmuan konstruksi frasa yang tidak baku seperti di atas hendaknya dihindari karena dalam bahasa Indonesia hubungan “termilik” + pemilik bersifat implisit. Karena terpengaruh oleh (antara lain) bahasa Jawa hubungan “termilik + pemilik” sering dieksplesitkan dengan sufiks  –nya, misalnya:  

10.  rumahnya Heri
      bajunya Riki

pemakaian –nya  seperti contoh (16) perlu dihindari. Namun hal yang lain, “termilik + pemilik itu perlu dipertegas dengan sufiks  –nya. Bandingkan kedua contoh di bawah ini!

guru Parman          dengan            gurunya Parman
Bapak Martono    dengan             bapaknya Martono

Kesalahan yang sering terjadi ialah pemakaian verba seperti pada kalimat di bawah ini, misalnya:

11.  Setelah semuanya siap, mereka menaburi benih ikan yang terpilih.
12.  (setiap bulan), kakaknya selalu mengirimi uang.
13.  Panitia menyerahkan hadiah lomba ketramilan remaja pada acara penutupan.

Kesalahan seperti kalimat (11)  dapat dibetulkan dengan melengkapi ‘tempat’ menaburi benih ikan yang terpilih, misalnya kolam itu, sehingga kalimat yang betul adalah:

11a. Setelah semuanya siap, menaburi benih ikan yang terpilih kolam itu. 
11b. Setelah semuanya siap, mereka mereka menaburi kolam itu dengan benihikan yang terpilih.

Dengan pembetulan itu, maka makna kalimatnya menjadi jelas. Jika dipertahankan seperti kalimat (11a) makna kalimat itu tidak jelas karena dapat ditafsirkan juga ‘menaburi sesuatu pada benuh yang terpilih’. Padahal penafsiran yang demikian bukan yang dimaksud  dalam kalimat (11b).

4.      Kalimat yang ‘pelaku’ dan verbanya tidak bersesuaian
Dalam kalimat dasar, verba dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut hadirnya satu ‘pelaku’ dan verba yang menuntut hadirnya lebih dari satu ‘pelaku’. Dalam pembentukan kalimat, kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang penggunaan verba dua ‘pelaku’, namun salah satu ‘pelakunya’ tidak tercantumkan, contoh: 

12. Dalam perkelahian itu  dia berpukul-pukulan dengan gencarnya. 
13. Dalam seminar itu dia mendiskusikan perubahan sosial masyarakat pedesaan sampai berjam – jam. 

Dalam kalimat ( 12 ) verba berpukul-pukulan menuntut hadirnya dua pelaku, yaitu dia dan orang lain, misalnya Joni. 

13.  Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan Joni.
  
Demikian pula kalimat ( 13 ), di samping pelaku dia diperlukan hadirnya pelaku lain sebagai mitra diskusi, misalnya para  pakar, sehingga kalimat ( 13 ) menjadi : 

( 13a ) Dalam seminar itu, dia mendiskusikan perubahan sosial masyarakat pedesaan dengan para pakar.

5.      Penempatan yang Salah Kata Aspek pada Kalimat Pasif Berpronomina
Menurut kaidah, kanstruksi pasif berpronomina berpola aspek + pronomina + verba dasar. Jadi tempat kata aspek adalah di depan pronomina. Kesalahan yang sering terjadi ialah penempatan aspek di antara pronomina dengan verba atau dalam pola: *pronomina + aspek +  verba dasar, misalnya  :

14.  *saya sudah katakan bahwa…. 
    *kita sedang periksa….
    *kami telah teliti….

Bentuk – bentuk seperti contoh ( 14 ) dapat dibetulkan dengan memindahkan kata aspek ke depan pronomina menjadi sebagai berikut : 

( 14a ) sudah saya katakan bahwa …..
sedang kita periksa ….
                        telah kami teliti ….

6.      Kesalahan Pemakaian Kata Sarana 
Dalam menyusun kalimat sering dipakai kata sarana,kata sarana itu dapat berupa kata depan dan kata penghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu frasa depan, sedang kata penghubung umumnya terdapat dalam kalimat majemuk baik yang setara maupun yang bertingkat.
Kesalahan pemakaian kata depan umumnya terjadi pada pemakaian kata depan di, pada, dan dalam. Ketiga kata depan ini sering dikacaukan,misalnya:
15.  Di saat istirahat penyuluh mendatangi para petani. 
16.  Benih itu ditaburkan pada kolam yang baru. 
17.  Dalam tahun 1965 terjadi pemberontakan G 30 S/PKI.   

Kata depan di ( 15 ) seharusnya adalah  pada; kata depan pada (16 ) seharusnya  adalah dalam atau  ke dalam; kata depan  dalam ( 17 ) seharusnya adalah pada.  
Adapun kesalahan pemakaian kata penghubung umumnya terjadi karena ketidaksesuaian antara pamakaian kata penghubung dan makna hubungan antarklausanya, misalnya: 

18.  Rapat hari ini ditunda berhubung peserta tidak memenuhi kuorum

Kata penghubung berhubung ( 18 ) seharusnya diganti karena atau sebab, menjadi kalimat di bawah ini. 

( 18a ) Rapat hari ini ditunda karena peserta tidak memenuhi kuorum. 
Rapat hari ini ditunda sebab peserta tidak memenuhi kuorum. 

Dalam hal ini perlu dicatat bahwa pemakaian kata penghubung karena sebaiknya tidak mengikuti verba disebabkan.

( 18b ) Rapat hari ini ditunda disebabkan karena peserta tidak memenuhi kuorum. 

Pemakaian  disebabkan karena merupakan pemakaian yang berlebihan, sehingga perlu dihemat seperti dalam kalimat berikut.  (18c ) Rapat hari ini ditunda disebabkan peserta tidak memenuhi kuorum.

            Kesalahan pemakaian kata penghubung lain, misalnya:   

19.   Penanaman rumput gajah bagi masyarakat pedesaan berguna untuk menyediakan pakan ternak juga mencegah adanya penggembalaan liar. 
20.   Pemasukan negara dari sektor pariwisata cukup besar, maka pemerintah  berusaha terus membangun daerah-daerah wisata baru.

Pemakaian kata  juga ( 19 ) seharusnya diganti kata dan, sedangkan kata maka ( 20 ) tidak tepat karena kata maka lazimnya hadir berpasangan dengan kata penghubung karena. Kalimat ( 20 ) akan lebih tepat jika diubah menjadi : 

( 20a ) Karena pemasukan negara dari sektor pariwisata cukup besar, maka pemerintah berusaha membangun daerah-daerah wisata baru. 

C.     Efektivitas Kalimat 
Ada beberapa yang mengakibatkan suatu kalimat menjadi kurang efektif. Penyebab suatu tuturan menjadi kurang efektif. 
1.      Kurang Padunya Kesatuan Gagasan 
Telah kita ketahui bahwa setiap tuturan  terdiri atas beberapa bagian atau satuan gramatikal. Agar tuturan itu memiliki kesatuan gagasan, satuan-satuan gramatikalnya harus lengkap. Di samping  itu, masing – masing satuan tersebut hendaknya mendukung satu gagasan utama atau ide pokoknya. Perhatikanlah contoh berikut ini:

21.  Setamat dari SMA, Wati bercita-cita melanjutkan studinya di Fakultas  Ekonomi. Fakultas Ekonomi didirikan pada tahun 1972. Dosen, asisten, dan karyawannya mempunyai dedikasi yang cukup tinggi. 

Contoh ( 21 ) memang tidak memiliki kesatuan gagasan, bahkan merupakan tuturan yang janggal. Mungkinkah Wati sudah mengetahui kapan   14 Fakultas Ekonomi didirikan, dedikasi dosen dan asisten serta karyawannya yang cukup tinggi, sementara bagi Wati masuk Fakultas Ekonomi itu masih merupakan cita-cita belaka! Kejanggalan itu menunjukkan bahwa antara gagasan yang diungkapkan pada kalimat pertama tidak padu dengan gagasan yang diungkapkan pada kalimat kedua dan ketiga.  Masing-masing kalimat itu cenderung mengungkapkan gagasan tersendiri. Hal ini  terjadi karena dalam benak penutur terjadi kerancuan. Sementara penutur baru mengungkapkan cita-cita Wati, gagasan-gagasan lain yang sebenarnya harus dikesampingkan ( terlebih dahulu ) bermunculan. 
Dengan mengetahui tidak adanya kasatuan gagasan pada contoh ( 21 ), kita dapat menyimpulkan bahwa kesatuan gagasan akan terwujud bilamana gagasan yang satu bertautan dengan gagasan -gagasan  lain. Atau secara teknis, kesatuan gagasan akan terwujud  bilamana satuan gramatikal satu dengan satuan gramatikal yang lain memiliki pertautan maknawi. 
Dari uraian di atas, agar dalam contoh ( 21 ) terwujud adanya kesatuan gagasan, maka setelah diungkapkan gagasan mengenai ‘cita-cita Wati’ pada kalimat pertama, perlu diungkapkan gagasan-gagasan lain yang ada pertautannya dengan kalimat kedua, ketiga, dan seterusnya. Misalnya saja, setelah diungkapkan ‘cita-cita Wati’ dalam kalimat pertama ( yang nanti akan disebut kalimat topik ), lalu diungkapkan ‘sejak kapan Wati bercita-cita demikian’, ‘mengapa Wati bercita-cita demikian itu’, ‘bagaimana Wati berusaha mencapai  cita-citanya itu’, dan mungkinkah cita-cita itu tercapai ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar